Tampilkan postingan dengan label Hijau Hitam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijau Hitam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Juli 2017
Mengapa Harus Gabung Dengan Himpunan Mahasiswa Islam?
Relonsiliasi Perlukah? Bagi HMI Cabang Pohuwato.
Aku, Kita, dan Kalian Satu Cita, Untuk Umat dan Bangsa
(HMI Cabang Pohuwato Rekonsiliasi)
Dasar Persepsi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Rekonsiliasi memiliki arti merupakan perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan dam juga penetapan pos-pos yang diperlukan untuk mencocokkan saldo masing-masing dari dua akun atau lebih yang mempunyai hubungan satu dengan lain serta ikhtisar yang memuat rincian perbedaan antara dua akun atau lebih
Upaya untuk sama-sama kita merefleksikan kembali bagaimana para pejuang wadah ini hinggga bisa terbentuk dan kini kita para generasi untuk bagaimana melanjutkan perjuangan tersebut dengan selalu menjaga, merawat dan menghidupkan organisasi ini dengan kesadaran memiliki dan tanpa paksaan serta bagaimana bisa kita untuk benar-benar bergerak suci untuk pengabdian dan menjadi penerus tongkat estapet perjuangan yang progres lagi solid.
Melawan Ego
Berangkat dari kesadaran bahwa bergerak sendiri itu sangatlah sulit, apalagi untuk bagaimana bisa menciptakan perubahan yang lebih baik, maka harus kita sadari persatuanlah yang akan membuat kita utuh dan bisa besar secara bersama dan mampu mewujudkan cita-cita.
Ketika kita semua telah menjadi sibuk dengan kepentingan pribadi dan mengesampingkan apa yang menjadi amanah dan telah kita sumpah ikrarkan pada sebelum kita menginjakan kaki atau masuk dalam wadah yang sangat kita agung-agungkan secara berjamaah
Bukan hanya ketika ada kepentingan kita lagi-lagi bersatu, segera dan mari eratkan kembali tali persaudaraan dan kekeluargaan kita dalam sebuah wadah yang dinamakan himpuna ini, sudah lama memang kita dijenuhkan oleh masalah,masalah, masalah lagi masalah yang sering kita perdebatka namun kita tidak lagi-lagi mengintropeksi siapa yang membuat masalah ini tidak pernah selesai atau ada solusinya
Menuju Rekonsiliasi Utuh
Kita hanya membutuhkan the figur untuk bagaimana bisa membawa kita kepada perhimpuna dan perjuangan secara bersama-sama, yang mampu menjalankan garis-garis besar apa yang menjadi aturan wadah ini, bukan untuk bagaimana bisa menggugurkan kewajiban saja tapi bagaimana bisa mengembangkan wadah ini secara sungguh-sungguh, dan rela berkorban apapum demi menjaga, merawat dan membesarkan wadah ini kearah progresif yang dinamis mengarah pada kemajuan secara utuh dalam bentuk kelembagaan bukan personal
Sebagaimana Allah SWT telah berpesan pada kita manusia yang artinya "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)
Menangggih Ikrar
Maka mari bersama kita merenung bersama bukan bertanya sudah seberapa besar yang wadah berikan kepada kita namun sudah berapa yang kita berika untuk wadah ini, jangan sampai wadah ini akan rusak ditangan generasi kita dan yang menjadi korban adalah generasi kita kedepan yang entah apa yang akan terjadi.
Solusinya adalah kembali mari rapatkan barisan, satukan tekad, satukan tujuan untuk sebuah kebersamaan dan kemajuan wadah ini secara bersama dan mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar paham yang menjadi amanah dan tupoksinya bukan untuk mencari hidup diwadah ini namun bagaimana bisa menghidupkan wadah ini.
Mana yang katanya kita berteman lebih dari saudara, mana yang katanya kita bersaudara lebih dan keluarga, mana katanya kita sebagai kader umat dan bangsa, mana kita sebagai insan yang katanya beriman, berilmu dan beramal dengan bagaimana menjaga independensi dan harga mati bagi mencapai mision secara bersama bersatu dalam yang namanya Himpunan.
Penutup
Semoga dalam perhelatan KONFERCAB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato, tidak hanya melahirkan pemimpin seremonial saja namun bagaimana bisa melahirkan figur yang bisa menjadi menjadi panutan, contoh dan bisa menjadi icon organisasi yang memegang teguh konstitusi, paham nilai-nilai dasar perjuangan dan mampu menjalankan mision HMI dalam kehidupan sosial masyarakat yang adil makmur diridhoi Allah SWT.
Salam......!! HmI Cabang Pohuwato Rekonsiliasi....~
#Save_KonfercabHMICabangPohuwato
#Save_HMICabangPohuwato
#HMI_Rumah_KitaBersama
Penulis : Santo Ali (Kader HMI Cabang Pohuwato)
Selasa, 16 Mei 2017
CORETAN : Tak Mungkin, Tapi Mungkin Harus Begini oleh Santo Ali
Hari berganti hari ku lalui denganmu akan tetapi semua tampak hal yang itu tak lagi seperti dulu yang aku rasakan
Kau telah berasamanya yang itu dia adalah teman karibku, dia yang selalu berada disaat aku termenung dan terkaku membisu
Kau yang telah pergi jauh untuk selamanya telah aku ikhlaskan, dan ku pinta jangan pernah lagi kau balik memberikan segudang harapan yang kian pasti.
Suatu saat nanti dikala kita bertemu tiada yang lebih dan kurang kau adalag masa lalu yang akan terkenang selau dan akan menjadi cerita di kisah yang lalu yang telah pergi dan tak akan bersama lagi
Matamu yang berpancar cahaya kejujuran itu tampak tak lagi membuat detaran jantung ini, yang ada hanyalah bagian hidupku dikala itu yang itu adalah masa lalu yang telah berlalu
Jangan datang lagi ! Aku pinta jangan kau mendekat lagi, sana pergi bersama dia yang kau anggap paling sempurna itu, sana pergi sama dia yang kau paling sayang itu.
Kau harus tahu bahwa aku tak sedih ketika kau pergi, yang aku rasakan adalah bersyukur bahwa aku tak tahu kau bukan yang terakhir bagiku
Ku ingat ketika itu disana kau yang dulu bukan dia, kau tiada lain adala dia yang bukan lagi yang aku kenal, kau berubah dan tak mungkin akan berjumpa lagi dengan seorang diri yang telah kau ketuk hatinya di kala itu
Kataku yang terakhir untukmu, hapuskan aku dari pikiranmu, abaikan aku dikala didekatmu, dan jangan lagi kau datang, ku mohon jangan datang lagi di hatiku.
Kata-katamu itu akan selalu menjadi motivasi bagiku bahwa masih banyak yang terbaik dari hatimu di luaran sana yang lebih perduli, dan mengerti denganku.
selamat berjumpa di waktu yang tiada akan ada, dan tak akan pernah ada, ini bukan semata aku kecewa atau apa tapi tulisan ini adalah respon dari akal dan hati yang kian lagi tak mengharapkanmu, kau adalah rembulan yang kian tak akan pernah turun lagi di hatiku.
Ketum HMI Cabang Pohuwato : Resmi Lantik Tiga Komisariat Periode 2017-2018
WAM-POHUWATO : Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pohuwato telah resmi melantik beberapa pengurus Komisariat diantaranya HMI Komisariat Teknik Informatika, HMI Komisariat Sosial Politik (SOSPOL), HMI Komisariat Hukum Cabang Pohuwato Periode 2017-2018 pada tanggal 16 Mei 2017 bertempat di Ruang Kelas Kampus STIE Ichsan Pohuwato.
Acara pelantikan itu di hadiri langsung oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato Wawin Wartabone, Adapun masing-masing Ketua Umum HMI Komisariat Sosial Politik (SOSPOL) Saudari Irmawati Dehi, Ketua Umum HMI Komisariat Teknik Informatika Saudari Nurlena Abdul Aziz dan Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Saudara Fahmi Toto. Saat disaksikan oleh tim WMA saat mendengarkan pembacaan Surat Keputusan Pengurus HMI Cabang Pohuwato oleh Santo Ali yang juga sebagai Wakil Sekretaris Umum Bidang Pembinaan Umat HMI Cabang Pohuwato.
Ketua Umum HMI Cabang Pohuwato Wawin Wartabone dalam sambutannya mengatakan agar kedepan Komisariat-Komisariat di lingkungan HMI Cabang Pohuwato usai dilantik agar mampu mengemban amanah dan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana saat diucapkan pada Ikrar Pelantikan yang usai dilaksanakan tadi.
"Saya atas nama Ketua Umum HMI Cabang Pohuwato berharap kepada seluruh pengurus Komisariat yang telah usai dilantik agar lebih aktif, bersinergi dengan Pengurus Cabang dan Alumni serta lembaga eksternal lainnya, dan juga diharapkan kepada Komisariat tidak usah ragu dalam berkreatifitas serta agar kiranya dapat melakukan perkaderan yang dimana bahwa HMI bersifat Independent dan Berfungsi sebagai organisasi Kader" Ujar Wawin yang juga mantan presbem STIE Ichsan Pohuwato.
Ketum Wawin juga mengatakan "dalam waktu dekat masih ada beberapa agenda yang harus kita laksanakan diantaranya Rapat Pleno Ke-3, Rapat Koordinasi serta Konferensi Cabang (KONFERCAB) Ke-2 HMI Cabang Pohuwato, ia pula mengharapkan kepada seluruh kader HMI Cabang Pohuwato agar lebih menjaga kebersamaan, kekompakan dan kesatuan agar kita mampu membawa HMI lebih baik dan mampu melahirkan generasi yang akan meneruskan perjuangan untuk ummat dan bangsa didunia dan diakhirat". Harap Wawin
Ketum Wawin juga dalam akhir sambutannya menyampaikan
" UcapanTerimakasih kepada seluruh kader yang telah ikut serta mensukseskan kegiatan pelantikan ini, selamat bekerja kepada pengurus Komisariat semoga Amanah, Yakin Usaha Sampai Salam Perjuangan" Tutup Wawin dengan penuh nada tegas
Kegiatan pelantikan berlangung hikmat dan selesai dengan lancar dan langsung di tutup oleh Ketua Umum HMI Cabang Pohuwato. AL Selasa, (16/05/2017)
Senin, 15 Mei 2017
Ini Alasan Kader HMI Sangat Membanggakan Organisasinya. Jika Setuju Share.
1. Karena di HMI anak-anak tokoh Masyumi bisa duduk manis dengan anak-anak tokoh NU
2. Karena di HMI anak-anak Tokoh Muhammadiyah bisa berpelukan dengan anak-anak tokoh NU dan organisasi Islam lainya bahkan dengan anak-anak tokoh Nasionalis sekalipun
3. Karena di HMI hal-hal kecil bersifat Furuiyah di abaikan demi sesuatu yang besar yaitu Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah wathoniyah
4. Karena di HMI anak-anak keturunan Muhammadiyah, NU, PERSIS, Al Irsyad dll bisa sholat jamaah secara bersama
5. Karena di HMI adalah pencerminan Islam Mini Indonesia
6. Karena di HMI anak-anak dari orang tua yang ideologinya berbeda bisa duduk bareng diskusi dengan damai
7. Karena di HMI kami diajarkan bagaimana membangun negara ini dengan cara yang benar
8. Karena di HMi kami diajarkan menghargai Pluralisme dan kebhinekaan
9. Karena di HMI kami diajarkan bahwa generasi muda Islam, generasi muda Kristen, Generasi muda Hindu dll semuanya merupakan kader-kader bangsa yang harus saling membangun komunikasi untuk membangun bangsa ini
10. Karena di HMI para aktivis bisa bebas ngomong dan diskusi tentang apa saja termasuk ngomong tentang Ateisme dan ideologi lainnya sebagai ilmu
11. Karena di HMI tidak ada kultus Individu,Prof Lafran Pane, Nurcholis Madjid dan Akbar tanjung pun bisa dibantah
12. Karena di HMI kami tidak diajarkan untuk taqlid dalam menerima pendapat seseorang
di HMI kami diajarkan setelah menjadi alumni anda boleh berkiprah dibidang kehidupan apa saja, di partai politik apa saja asalkan tetap memperjuangkan keadilan dan kebenaran
13. Karena di HMI tidak ada kata saling mengkafirkan
16. Karena di HMI kekuatan intelektual menjadi rujukan utama
17. Karena di HMI ada hubungan emosional Ideologis sangat dekat antara sesama anggota atau antara Junior dengan senior walaupun mereka dipisahkan oleh jarak waktu
18. Karena di HMI silaturahmi tidak pernah putus
19. Karena di HMI kami tidak diajarkan berpikir secara primordial
20. Karena di HMI kami diajarkan komitmen kebangsaan tidak akan menafikan komitmen keberislamanan begitu pula sebaliknya komitmen kebangsaan.
21. Karen di HMI kita satu untuk Iman Ilmu Amal, dan Yakin Usaha Sampai.
Sumber : Akun Facebook Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)
Ini Alasan Kader HMI Sangat Membanggakan Organisasinya. Jika Setuju Share.
2. Karena di HMI anak-anak Tokoh Muhammadiyah bisa berpelukan dengan anak-anak tokoh NU dan organisasi Islam lainya bahkan dengan anak-anak tokoh Nasionalis sekalipun
3. Karena di HMI hal-hal kecil bersifat Furuiyah di abaikan demi sesuatu yang besar yaitu Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah wathoniyah
4. Karena di HMI anak-anak keturunan Muhammadiyah, NU, PERSIS, Al Irsyad dll bisa sholat jamaah secara bersama
5. Karena di HMI adalah pencerminan Islam Mini Indonesia
6. Karena di HMI anak-anak dari orang tua yang ideologinya berbeda bisa duduk bareng diskusi dengan damai
7. Karena di HMI kami diajarkan bagaimana membangun negara ini dengan cara yang benar
8. Karena di HMi kami diajarkan menghargai Pluralisme dan kebhinekaan
9. Karena di HMI kami diajarkan bahwa generasi muda Islam, generasi muda Kristen, Generasi muda Hindu dll semuanya merupakan kader-kader bangsa yang harus saling membangun komunikasi untuk membangun bangsa ini
10. Karena di HMI para aktivis bisa bebas ngomong dan diskusi tentang apa saja termasuk ngomong tentang Ateisme dan ideologi lainnya sebagai ilmu
11. Karena di HMI tidak ada kultus Individu,Prof Lafran Pane, Nurcholis Madjid dan Akbar tanjung pun bisa dibantah
12. Karena di HMI kami tidak diajarkan untuk taqlid dalam menerima pendapat seseorang
di HMI kami diajarkan setelah menjadi alumni anda boleh berkiprah dibidang kehidupan apa saja, di partai politik apa saja asalkan tetap memperjuangkan keadilan dan kebenaran
13. Karena di HMI tidak ada kata saling mengkafirkan
16. Karena di HMI kekuatan intelektual menjadi rujukan utama
17. Karena di HMI ada hubungan emosional Ideologis sangat dekat antara sesama anggota atau antara Junior dengan senior walaupun mereka dipisahkan oleh jarak waktu
18. Karena di HMI silaturahmi tidak pernah putus
19. Karena di HMI kami tidak diajarkan berpikir secara primordial
20. Karena di HMI kami diajarkan komitmen kebangsaan tidak akan menafikan komitmen keberislamanan begitu pula sebaliknya komitmen kebangsaan.
21. Karen di HMI kita satu untuk Iman Ilmu Amal, dan Yakin Usaha Sampai.
Sumber : Akun Facebook Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)
Ini Alasan Kader HMI Sangat Membanggakan Organisasinya. Jika Setuju Share.
Kamis, 11 Mei 2017
HMI Pohuwato Sesalkan Fitnah Brigade Jokowi Yang Di Tuduhkan Kepada Lembaga HMI
WMA-POHUWATO- Berdasarkan berita yang oleh PB HMI Melalui akun facebook PB HMI bahwa telah ada yang mencoba atau menyebut Jaringan HMI Jusuf Kalla membahayakan pemerintahan ini sangaf menyakitkan memang bagi kader-kader HMI Di Seluruh Indonesia.
Mulyono namanya yang mencoba membuli HMI dengan fitnah yang tidak benar berdasarkan ilustrasi berita yang kami baca di akun PB HMI seebagai berikut :
Menurut Mulyono, JK dengan jaringan HMI membuat intrik politik di lingkungan pemerintahan. “Pak SBY sudah tahu karakter JK, makanya di putaran kedua Pilpres 2009 menggandeng Boediono. Dan kelakuan JK diulangi lagi di pemerintahan Jokowi,” jelas Mulyono. Kata Mulyono, jaringan HMI JK bisa menggembosi Jokowi di Pilpres 2019. “Lebih baik, JK mengundurkan diri dari Wapres,” tegas Mulyono.
Ia melihat jaringan HMI JK bermain dalam memfitnah Ahok dalam tudingan menista agama. “Walaupun Golkar di Pilkada DKI dukung Ahok, tetapi kader-kader HMI di Golkar seperti Ahmad Doli Kurnia, Indra J Piliang mendukung Anies. Doli Kurnia membuat pernyataan-pernyataan di media yang penuh fitnah terhadap Ahok,” papar Mulyono. Ia meminta pemerintahan Jokowi mewaspadai jaringan HMI karena bisa jadi menelikung di tengah jalan. “HMI ini punya operator di pemerintahan dan lapangan serta membuat isu-isu yang bisa menyudutkan Presiden Jokowi,” pungkas Mulyono.
Baca http://www.pbhmi.or.id/berita/1640/brigade-jokowi-sebut-jaringan-hmi-jusuf-kalla-membahyakan-pemerintahan.html
Baca http://www.pbhmi.or.id/berita/1640/brigade-jokowi-sebut-jaringan-hmi-jusuf-kalla-membahyakan-pemerintahan.html
Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato saat dimintai keterangan di Sekretariat HMI Cabang Pohuwato lepas sholat Jum'at 12 Mei 17 Pukul 14.00 WITA. ia mengatakan sangat menyayangkan stetmen atau hal yang disebutkan oleh Brigade Pak Jokowi terhadap lembaga HMI, Pengurus HMI Cabang Pohuwato, Melaui Wakil Sekretais Bidang Pembinaan Umat HMI Cabang Pohuwato Santo Ali Menanggapi hal diatas mengatakan " "saya selalu kader pribadi kader HMI sangat menyayangkan hal ini di tujukan hanya kepada HMI, padahal HMI tak bersalah apa-apa, jika ada kepentingan politik jangan bawa-bawa organisasi kemahasiswaan apalagi ini HMI yang jelas tujuannya bagaimana mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT"
Santo Ali yang juga sebagai alumni Senior Course (SC) Tingkat Nasional itu meminta agar seluruh keluarga Besar HMI tak mendiamkan hal ini, jika tidak ini akan melebar dan akan menjadi polemik bagi HMI maupun untuk Pemerintahan, Menurut Santo ada oknum yang mencoba-coba menfitnah atau bahkan ingin mengadu domba HMI dan Pemerintah supaya HMI bisa dilumpuhkan yang dimana benar adanya bahwa HMI memiliki Conection dan Mobilitas yang begitu besar di Negara ini.
Ia juga mengharapkan agar Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dan Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MD KAHMI) agar menindak hal ini karena ini menurut kami bahwa fitnah dan sangat merugikan lembaga HMI maupun senior-senior kita yang ada di pemerintahan saat ini.
Santo pula meminta agar PB HMI tidak tinggal diam dengan hal ini, harus ada langkah-langkah yang segera diambil oleh Pengurus Besar jika tidak ini akan merajala lela dan sangat memperihatinkan apabila hanya didiamkan intinya harus kita lawan segala bentuk fitnah maupun buli dari siapapun yang itu sangat merugikan HMI yang merupakan organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar di Indonesia . AL (Jum'at, 12 Mei 2017)
Apa saja sih motiv ber-HMI? Berikut baca tiga motiv Ber-HMI
Seandainya David McClelland, psikolog sosial asal Amerika, diundang ke Ciputat untuk men-screening calon-calon peserta LK-1 dan menanyakan pertanyaan ini: “Apa motivasi Anda masuk HMI?”
Jawaban calon-calon peserta pasti tidak sama satu sama lain. McClelland akan menimbang jawaban-jawaban itu dan memasukannya ke dalam “kotak-kotak” yang telah ia sediakan. Jika calon peserta LK-1 menjawab: “Saya ingin memperbanyak teman dan memperluas pergaulan,” maka McClelland akan menggolongkannya sebagai “rendah dalam need for achievement, tinggi dalam need for affiliation“.
Need for achievement adalah kebutuhan untuk berprestasi, sedangkan need for affiliation adalah kebutuhan untuk berhubungan sosial.
Sedangkan calon peserta yang mengatakan: “Saya ingin seperti Jusuf Kalla,” atau “Saya ingin memiliki jaringan yang luas agar mudah dalam mencari pekerjaan nanti”, atau: “Saya ingin menjadi ketua cabang”, maka McClelland akan menyebutnya sebagai “rendah dalam need for achievement, tinggi dalam need for power“.
Need for power adalah kebutuhan untuk berkuasa.
Dan jawaban semacam ini: “Saya ingin mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri saya lewat aktivitas dan sarana-sarana yang ada di HMI”, mungkin akan menghasilkan ucapan selamat dari McClelland dan ia akan menepuk-nepuk pundak sang calon peserta karena jawaban tersebut menunjukkan need for achievementyang tinggi.
Anda mungkin akan bertanya, kenapa need for achievement selalu disebut dalam kesimpulan McClelland?
Need for achievement (biasa disingkat n-ach) adalah ibarat anak kandung yang lama diidam-idamkan McClelland, sedangkan dua need yang lain sebagai anak pungut yang tak sengaja ditemukan McClelland ketika menyimpulkan hasil penelitiannya.Jadi wajar kalau n-ach menjadi anak paling disayang dan paling sering disebut. Awalnya McClelland melakukan penelitian dengan tujuan untuk mencari tahu faktor apa yang menimbulkan semangatenterpreneurship (wirausaha) pada para pekerja di berbagai bangsa di Eropa, Amerika, dan Asia. Jawabannya adalah need for achievement, anak kandungnya itu.
Teori tiga kebutuhan dari McClelland ini kemudian berkembang menjadi teori motivasi yang sangat terkenal dengan sebutan achievement motivation theory (teori motivasi berprestasi). Pemakaian teori kebutuhan untuk menerangkan motivasi kiranya tidak susah dipahami. Kebutuhan adalah suatu perasaan kekurangan atau keadaan tidak seimbang. Keadaan tersebut menggerakkan orang untuk bertindak menutupi kekurangan itu agar keadaan dirinya kembali seimbang. Hal “menggerakkan untuk bertindak” itulah yang disebut motivasi. Kita butuh makan, maka kita bertindak mencari makan. Motif yang menggerakkan kita mencari makan berasal dari kebutuhan kita akan makan. Jadi kebutuhan menimbulkan motivasi, dan teori kebutuhan menjadi teori motivasi.
Dengan demikian, tiga kebutuhan di atas bisa disebut juga tiga motivasi atau motif.
Motif Berprestasi
Max Havelaar, asisten residen Lebak abad ke-19 dalam novel karangan Multatuli, pernah mengungkapkan sebuah pesan yang amat indah saat berpidato di hadapan para kepala-negeri di wilayah itu. Katanya: “Sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi; kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tetapi karena kerja yang membikin ia berhak menerima upah.”
Tepat sekali. Seorang mahasiswa bisa saja bergembira atas hasil ujiannya yang tinggi. Tetapi jika dalam ujian dia nyontek, kegembiraannya pasti terganggu oleh sebutir kerikil yang terselip dalam benaknya. Kita senang dikasih uang oleh orang tua, tetapi kita akan bangga jika uang itu diperoleh dari usaha kita sendiri.
Motif berprestasi menunjukkan kecenderungan yang lebih besar pada proses dibanding hasil. Prinsipnya: kerja dulu, baru upah. Orang yang tinggi dalam motif berprestasi senang mendapat imbalan, tetapi imbalan yang diperoleh dari usaha, bukan yang didapat secara tiba-tiba. Ia juga menyukai tantangan, namun bukan tantangan yang tidak mungkin ditaklukkan. Tantangan yang realistis, tidak terlalu mudah tapi juga tidak terlalu susah, dengan peluang berhasil 50-50 (fifty-fifty), lebih disukai daripada tantangan yang bersifat spekulasi (gambling) meskipun hasilnya lebih besar. Tipe orang seperti ini mencari kesempatan-kesempatan di mana ia dapat memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Ia selalu bergairah untuk bekerja lebih baik dan efisien dibanding sebelumnya.
Motif Berkuasa
Gejala sebaliknya terjadi pada orang yang tinggi dalam motif berkuasa, yakni lebih berorientasi pada hasil daripada proses. Bedakan dua ungkapan berikut: “Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya seorang intelektual,” dan “Saya ingin agar orang-orang menyebut saya sebagai intelektual.” Ungkapan pertama menandakan motif berprestasi, ungkapan kedua menandakan motif berkuasa. Dalam kalimat pertama, tersirat juga keinginan untuk disebut intelektual. Tetapi hal itu ingin didapatkan setelah yang bersangkutan menunjukkan karya-karya yang membuat ia berhak disebut intelektual. Ungkapan kedua menunjukkan keinginan untuk disebut intelektual, tetapi tak diungkapkan bagaimana caranya. Pokoknya saya disebut intelektual, apapun caranya. Begitu kira-kira.
Motif kedua ini tampaknya cukup banyak dianut orang Indonesia. Kita mendengar ada pegawai yang membeli gelar akademik dari sebuah “universitas antah berantah” di luar negeri agar ia bisa naik jabatan dengan cepat. Ada juga politikus (dari nama “pekerjaannya” saja jelas mengharuskan yang bersangkutan punya motif berkuasa yang tinggi) yang ujug-ujug punya titel “Dr.” (Doktor) di depan namanya, padahal dia tidak punya reputasi akademis sedikit pun, apalagi sampai bikin buku. Contohnya seperti dapat kita lihat pada nama seorang pemimpin partai Islam di negeri ini. Sindrom gilagelar ini bahkan menimpa pula beberapa kiyai yang seharusnya punya sikap tawadhu dan rendah hati.
Motif Berafiliasi
Tampaknya motif inilah yang paling banyak dimiliki orang Indonesia. Setiap hari raya ‘idul fitripuluhan juta orang bergerak menyebar ke berbagai daerah di Indonesia untuk mudik melepas rindu dengan keluarga, sanak kerabat, dan para tetangga. Mereka rela menyisihkan pendapatan mereka sehari demi sehari agar pada saatnya cukup untuk mengongkosi perjalanan ke kampung halaman. Tingginya motif afiliasi orang Indonesia juga terartikulasi dalam filsafat hidupnya. Pepatah Jawa “mangan ora mangan ngumpul” atau ungkapan Sunda “riung mungpulung bongkok ngaronyok” menunjukkan hal itu.
McClelland tidak meneliti orang Indonesia. Tetapi, kata Jalaluddin Rakhmat, tampaknya orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan tipikal orang Iran: tinggi dalam need for power dan need for affiliation. Tipe bangsa seperti ini cenderung melahirkan sistem yang otoriter. Rakyatnya pun lebih senang diperintah oleh rezim yang totaliter. Oleh karena itu jangan heran kalau kini rakyat Indonesia bosan dengan pemerintahan Orde Reformasi dan mulai menunjukkan gejala-gejala terinfeksi penyakit SARS (Sangat Amat Rindu Soeharto).
Dalam konteks organisasi, umumnya anggota yang hanya tinggi dalam motif afiliasi tidak akan mencapai tingkatan puncak dalam struktur. Mereka hanya mengisi bagian bawah sebagai massa yang diperlukan saat ada pemilihan ketua umum, atau paling banter dilibatkan dalam kepanitiaan-kepanitiaan untuk kerja-kerja yang bersifat operasional lapangan. Mereka memang lebih membutuhkan suasana persahabatan dan kekeluargaan (kooperatif) daripada situasi kompetitif dan mereka sangat menghindari konflik.
Sebagai organisasi perkaderan, HMI jelas membutuhkan kader dengan motif berprestasi lebih tinggi dibanding motif lainnya. Motif berkuasa tetap diperlukan, namun dalam kadar yang sedang-sedang saja. Motif berafiliasi juga harus ada karena sebuah organisasi memerlukan sesuatu yang dapat mengikat anggota-anggotanya secara emosional. Ketiganya diperlukan dengan kadar yang berbeda-beda. Berorganisasi akan menjadi pengalaman yang menggairahkan dengan need for achievement; menjadi pengalaman yang seru dengan need for power; dan menjadi pengalaman yang indah dengan need for affiliation.
Hirarki Kebutuhan Maslow
Ketiga kebutuhan yang disebut McClelland di atas bukan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai syarat pokok untuk hidup (kebutuhan dasar). Ketiganya merupakan kebutuhan tingkat tinggi atau need for growth (kebutuhan pertumbuhan). Jika dibandingkan dengan teori hirarki kebutuhan yang dikembangkan Abraham Maslow, tiga kebutuhan McClelland ini kiranya mirip dengan kebutuhan tingkat ketiga sampai kelima. Dalam teorinya, Maslow menyebut ada lima kebutuhan manusia. Dua yang pertama merupakan kebutuhan dasar, yakni kebutuhan fisiologis (seperti makan, minum, dan berhubungan seksual), dan kebutuhan akan rasa aman (misalnya pakaian dan tempat tinggal).
Tingkat ketiga adalah kebutuhan sosial, yakni kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta. Manusia butuh berteman, berkeluarga, dan mempunyai identitas dalam suatu kelompok. Kebutuhan ini senada dengan need for affiliationdalam teori McClelland. Tingkat keempat adalah kebutuhan akan harga diri, bahwa setelah manusia hadir dalam kehidupan kelompok, ia ingin kehadirannya dihargai oleh orang-orang lain. Meski tidak persis,need for power-nya McClelland kiranya tak jauh berbeda dengan kebutuhan ini. Tingkat tertinggi adalah kebutuhan untuk beraktualisasi-diri. Di sini manusia mencurahkan segala potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin sehingga ia dapat menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Kebutuhan ini analog dengan Need for achievement.
Dari perbandingan di atas tampak bahwa need for achievementatau kebutuhan berprestasi merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatnya dibanding dua kebutuhan lainnya. Kebutuhan beraktualisasi-diri kategori Maslow hanya mungkin jika diisi oleh motif berprestasi yang tinggi. Oleh karena itu, sekali lagi, jika HMI ingin maju, rekrutlah kader-kader dengan motif berprestasi yang tinggi dan didiklah kader-kader yang ada untuk meningkatkan motivasi ini.
Insan Kamil
Saat membaca bab II dari NDP HMI (Pengertian-pengertian Dasar tentang Kemanusiaan), sesampainya di paragraf empat dan lima yang menerangkan tentang manusia sejati (insan kamil), saya tersenyum mendapatkan bahwa ciri-ciri insan kamil yang disebutkan di situ ternyata persis sama dengan ciri-ciri Maslow tentang orang yang telah mencapai tingkat aktualisasi-diri (lihat misalnya buku Duane Schultz, Psikologi Pertumbuhan, Jakarta: Kanisius, 1991). Saya kutipkan berikut ini paragraf empat secara lengkap dan kalimat pertama dari paragraf lima.
“Manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan fisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan. Kerja baginya adalah kesenangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan keluar corak perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individual dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat, hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama umat manusia. Baginya tidak ada pembagian dua (dikotomi) antara kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia akhirat.“
Kita tahu NDP disarikan dari al-Quran. Meski tidak menutup kemungkinan Cak Nur, sang perumus utama, mengutip dari teori Maslow, keterangan tentang insan kamil itu diikuti oleh ciri-ciri selanjutnya yang diambil dari al-Quran: “Kesemuanya dimanifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran (al-Bayyinah: 5). Dia adalah seorang yang ikhlas, artinya seluruh amal perbuatannya benar-benar berasal dari dirinya sendiri dan merupakan pancaran langsung dari kecenderungannya yang suci dan murni (al-Baqarah: 207). Suatu pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai pekerjaan itu sendiri bagi kebaikan dan kebenaran, bukan karena hendak memperoleh tujuan lain yang nilainya lebih rendah (pamrih) (al-Insan: 8-9). Kerja yang ikhlas mengangkat nilai kemanusiaan pelakunya dan memberinya kebahagiaan (al-Baqarah: 263)… dst.
Saya tidak hendak mengritik Cak Nur dengan pembandingan ini. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa orang yang hidupnya digerakkan oleh motif berprestasi (McClelland), dan motif aktualisasi-diri (Maslow), adalah sejalan dengan ciri-ciri insan kamildalam al-Quran.
Wallahu a’lam.
Catatan: Tulisan ini diambil dari buku Asep Sofyan, Mengislamkan HMI Meluruskan Niat dalam Berorganisasi (eLSAK, 2003).
Wasekum Bidang Lingkungan Hidup, Hukum dan HAM : Desak Konfercab HMI Cabang Pohuwato Agar Secepatnya Di Laksanakan.
WMA-Pohuwato ; Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Himpunan Mahasiswa Islam bahwa sudah layak HMI Pohuwato menggelar Konfercab/Musyawarah Anggota dengan memperhatikan deskripsi Konferensi Cabang sebagai berikut :
Berdasarkan.
Pasal 14
a. Konferensi cabang (Konfercab) merupakan musyawarah utusan Komisariat.
b. Bagi cabang yang tidak mempunyai komisariat, diselenggarakan Musyawarah Anggota Cabang (Muscab).
c. Konfercab/Muscab diselenggarakan satu kali setahun.
Pasal 15
Kekuasaan/Wewenang
a. Menetapkan Program Kerja Cabang
b. Memilih pengurus Cabang dengan jalan memilih ketua Umum yang merangkap sebagai Formateur dan dua Mide Formateur
c. Menetapkan calon-calon anggota Majelis Pekerja Konferensi Cabang (MPKC)
Pasal 16
Tata Tertib Konferensi Cabang/Musyawarah Anggota Cabang
a. Peserta Konfercab terdiri dari Pengurus cabang, Utusan / Peninjau Komisariat, Kohati cabang, LPL, Anggota MPKC, Korkom dan undangan Pengurus Cabang.
b. Pengurus Cabang adalah penanggungjawab penyelenggara konferensi/musyawarah anggota cabang, komisariat penuh adalah peserta utusan, kohati cabang, lembaga kekaryaaan, LPL, anggota MPKC, Korkom, komisariat persiapan, dan undangan pengurus cabang adalah peserta peninjau.
c. Untuk Muscab, pengurus cabang adalah penanggung jawab penyelenggaraan Muscab, anggota biasa adalah utusan, kohati cabang, lembaga kekaryaan, LPL, anggota MPKC, Korkom,
d. Komisariat Persiapan, dan undangan Cabang adalah peserta peninjau.
e. Peserta utusan (komisariat penuh/anggota biasa) mempunyai hak suara dan hak bicara sedangkan peserta peninjau mempunyai hak bicara.
f. Banyaknya peserta utusan (komisariat penuh ) pada konfercab disesuaikan dengan pasal 13 ayat (d) dengan ketentuan a = 50 sedangkan peserta peninjau ditetapkan pengurus cabang.
g. Pimpinan sidang Konfercab/muscab dipilih dari peserta utusan/peninjau oleh peserta utusan dan berbentuk presidium.
h. Konfercab/Muscab baru dapat dinyatakan syah apabila dihadiri lebih dari separuh jumlah peserta utusan komisariat/komisariat penuh
i. Setelah pengurus cabang menyampaikan LPJ di hadapan peserta Konfercab/Muscab maka pengurus cabang dinyatakan demisioner.
Baca AD/ART HMI
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pohuwato dibawah kepengurusan Wawin Wartabone tak lama lagi akan mengakhiri kepengurusannya pada periode 2016-2017. Berdasarkan hasil diskusi bersama Wakil Sekretaris Bidang Lingkungan Hidup dan HAM HMI Cabang Pohuwato Hendra Baku mendesak agar Pengurus HMI Cabang Pohuwato dibawah kendali Ketua Umum Wawin Wartabone segera mempercepat pelaksanaan Konferensi Cabang (KONFERCAB).
"Saya sebagai salah seorang kader hijau hitam pohuwato yang merupakan anggota komisariat hukum yang juga saat ini sebagai Wasekum Bidang Lingkungan Hidup, Hukum dan HAM,
mendesak kepada pengurus agar segera mempercepat konferensi cabang (KONFERCAB) agar segera dilaksanakan" harap Hendra Baku yang juga sebagai Mahasiswa UNISAN Pohuwato itu.
mendesak kepada pengurus agar segera mempercepat konferensi cabang (KONFERCAB) agar segera dilaksanakan" harap Hendra Baku yang juga sebagai Mahasiswa UNISAN Pohuwato itu.
Saat dimintai keterangan tentang siapa yang ia dukung nanti dia enggan mengatakannya katanya
" Entarlah ia sudah mengantongi nama yang enggan disebutkan disini nanti Kita lihat nanti pada perjalanan Konferensi Cabang nanti gelar saya mengingnkan kedamaian,dan kesolit dan kader2 HmI Cabang Pohuwato serta siapapun yang akan terpilih nanti ia harus benar-benar militan dan mampu" kata hendra melalui obrolan di Whatsup
Hendra mengharapkan agar HMI Cabang Pohuwato kedepan lebih baik, lebih progresif dan mampu melawan kebijakan-kebijakan pemerintaj yang tidak pro rakyat, dan mengharapkan agar seluruh personil pengurus HMI Cabang Pohuwato menseriusi dan mendorong seluruh Komisariat yang ada bisa mandiri dan segera di lantik agar Konferensi Cabang bisa digelar dengan penuh hikmat dan berkah dari Allah SWT. Pungkas Hendra Hendra
Hendra juga mengatakan bahwa untuk pelaksanaan saranya Konferensi Cabang agar dilaksanakan di Kampus sebab di kampus adalah tempat dimana menampung orang-orang yg mau belajar dan berorganisasi. Inilah semestinya moment yg harusnya kita perlihatkan kepada teman2 mahasiswa yg pragmatis,hedonis,dan apatis.
Diakhir stetmennya ia mengharapkan kepada ketua Umum terpilih agar :
Harapan sya.
ketika ketua umum yg sudah terpilih nanti dan siap untuk menahkodai HMI kedepan.
1. Aktifkan kajian2 kembali
2. Banyak membangun komunikasi yg efektif dgn kader2 HMI lainnya.
3. Jalankan kembali program2 HMI cabang pohuwato yg tdk sempat berjalan kemarin.
4. Tdk ada intervensi dari senior-senior .
5. Siap untuk membangun HMI kedepan. Harap Hendra (Jum'at, 12 Mei 2017Wasekum Bidang Lingkungan Hidup, Hukum dan HAM : Desak Konfercab HMI Cabang Pohuwato Agar Secepatnya Di Laksanakan.
Stop Interpensi HmI Pohuwato Mari Segera Konfercab Wujudkan Pemimpin Visioner dan Konstitusional
Berdirinya himpunan mahasiswa islam (HMI) diprakarsai oleh Larfan Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk di tingkat I. Tentang sosok Lafran Pane,dapat di ceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok Tapanuli Selatan, Sumatra utara. Pemuda lafran pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalisme muslim pernah mengenyam di pendidikan pesantren, ibtidaiyah, wusta dan sekolah muhamadiyah.
Adapun latar belakang pemikiran dalam pendirian HMI adalah : "Melihat dan menyadari bahwa kehidupan manusia dan mahasiswa yang beragama islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memaham dan mengamalkan ajaran agamanya.
Keadaan yang demikian adalah akibat dari system pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu di bentuk organisasi untuk merubah kondisi tersebut.organisasi magasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mekikuti alam pemikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan agamanya, yaitu agama islam.
Tujuan tersebut tidak akan dilaksanakan kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran akya.
Jumlah aanggota HMI saat ini memang besar. Sebagaimana pada saat kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Arief Rosyid Hasan, ada 215 cabang HMI se-Indonesia, 600.000 kader, serta 6 juta alumni yang tersebar diseluh pelosok Nusantara adalah harapan besar Bagi Islam dan NKRI kedepan yang lebih maju.
Beda dengan kondisi saat ini yang terjadi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato, HMI Cabang Pohuwato kini harus segera berbenah dan kembali pada garis-garis khitah perjuangan yaitu hanya tunduk pada Konstitusi, Nilai Dasar Perjuangan dan kembali kader-kadernya agar lebih bersungguh-sungguh mengurus organisasi kemahasiswaan yang tertua di Indonesia itu.
Perjalanan yang tak mudah memang untuk bagaimana bisa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwati dapat berdiri sendiri atau menjadi defenitif cabang penuh, penulis kembali menengok sejarah dimana bahwa saat itu HMI di Kabupaten Pohuwato masih berstatus Komisariat STIE yang kemudian berubah nama menjadi Komisariat Pohuwato, dalam waktu yang tak terhitung cepat HMI Komisariat Pohuwato dibawah kendali Ketua Umum Try Meyta P. Goma mengantarkan HMI Komisariat Pohuwato menjadi HMI Persiapan Cabang Pohuwato, kemudian dibawah kepemimpinan Ketua Umum Kanda Alpika Mohi mengantarkan HMI Persiapan Cabang Pohuwato y menjadi cabang penuh dengan 5 Komisariat Penuh Pertanian, Komisariat STIE, Komisariat Hukum dan Komisariat Sospol dan Komisariat Teknik serta dinyatakan oleh PB HMI defenitif menjadi cabang penuh yakni HMI Cabang Pohuwato, kemudian waktu berkembang HMI Cabang Pohuwato yang dibawah Kepemimpinan Kanda Wawin Wartabone yang bukan jujurjuran entah prestasi atau sejarah apa yang telah dicetaknya, kembali pada sejarah HMI Pohuwato diatas, namun di Jaman Wawin Wartabone biarlah keadaan yang menjawabnya sudah apa prestasi dan sejarah yang telah dicetak.
Kini HMI Cabang Pohuwato akan menghadapi acara yang telah dinanti-nanti yakni Konferensi Cabang (KONFERCAB) Ke-2 sejak menjadi Cabang Penuh, beberapa nama yang saat ini sedang digadang-gadang untuk bakal menjadi Calon Ketua Umum Diantaranya Herman, Yunus Lavewa, Taufik Usman dan Santo Ali yang kesemuanya telah memenuhi kualifikasi dalam pandangan atau realita saat ini. Namun yang menjadi pertanyaan yang besar apakah Konferensi Cabang Tahun ini bisa berjalan lancar sesuai harapan bersama, ya harus karena ini adalah waktunya kita bersatu dan membangun HMI Cabang Pohuwato kembali dengan penuh kebersamaan dan kesolidan.
Lagi-lagi kini isu perpanjangan kepengurusan tahun ini mengalir di telinga para kader, apakah hal ini hanya kita diamkan sebagai kader hijau hitam pohuwato jelas tidak, namun apabila ini adalah ponis atau bisa dibilang fatwa dari senior lalu apakah kita bisa melawannya , jelas harus bisa dengan kembali kita sama-sama merenung serta mendesak agar hal diatas tidak terjadi.
Siapapun kandidat yang ingin maju sebagai pengendali HMI Cabang Pohuwato kedepan harus membawa perubahan dan kemajuan HMI Pohuwato kedepan yang sesuai garis konstitusi dan lebih fokus pada Perkaderan.
Intinya bahwa kita lihat saja dengan waktu yang berjalan mau diperpanjang atau tidak Konferensi Cabang Harus Segera dilaksanakan sesuai dengan waktu dimana serah terima jabatan tahun lalu dilaksanakan.
Dengan harapan Konfercab yang akan digelar mampu melahirkan pemimpin yang visioner dan konstitusional bukan hasil fatwa maupun intruksi senior yang itu sangat merugikan lembaga HMI Cabang Pohuwato kedepan.
By Santo Ali (Ketum Demisioner HMI Komisariat STIE
Kondisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Masa Kini
Untuk melihat kondisi HMI dewasa ini, seperti ditulis Prof. DR. H. Agussalim
Sitompul, dalam bukunya
44 Indikator Kemunduran HMI, telah mengungkapkan secara
gamblang, kemunduran yang dialami HMI sejak tahun 1980
Ir. H. Akbar Tandjung dalam kata Pengantar dalam buku ini mengatakan bahwa kritik-kritik yang
dikemukakan penulis buku ini memang pahit bagi HMI. Akan tetapi hendaknya itu semua
dipandang sebagai motivasi bagsi setiap pengurus, aktivis, dan kader HMI dimanapun juga,
untuk bangkit dan berkembang kembali sebagai organisasi kemahasiswaan bernapaskan Islam,
yang berwibawa kuat dan berpengaruh
. Ketua Umum PB HMI, Hasanuddin, dalam kata
sambutan PB HMI mengemukakan bahwa apa yang ditulis di buku ini menunjukkan betapa
banyaknya persoalan yang dihadapi HMI termasuk konflik internal
Prof. Dr. H. Nurcholish Madjid, memberikan peringatan keras terhadap HMI ketika
menjelang Kongres ke-23 HMI di Balikpapan tahun 2002. Nurcholish dalam peringatan itu
mengatakan bahwa apabila HMI tidak bisa melakukan perubahan, lebih baik membubarkan diri.
Peringatan itu sebagaishock therapy dengan harapan, HMI dapat dan mampu melakukan perubahan terhadap dirinya yang banyak kalangan dipandang bahwa dalam tubuh
HMI ditemukan berbagai kekurangan yang sifatnya negatif.
Kondisi seperti inilah yang menyebabkan munculnya stigma negatif terhadap HMI
yang meliputi berbagai aspek seperti tentang
keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan,
keorganisasian, keHMIan, kedipsilinan, kurangnya respon terhadap berbagai masalah yang berkembang dalam kehidupan berbangsa bermasyarakat, dan bernegara, HMI tidak diminati lagi oleh mahasiswa, HMI hanya pandai berpendapat, tetapi tidak bisa melakukan perbuatan nyata (action), HMI sangat lemah dalam hal networking (jaringan), HMI sangat lemah dalam bidang informasi, publikasi, dokumentasi, banyak anggota HMI tidak memiliki sifat amanah, pamrih dalam berjuang, kurang dilandasi dengan semangat ikhlas. HMI tidak lulus dalam sejarah, yaitu dengan adanya organisasi yang menamakan dirinya “HMI-MPO”.
Maka dari kondisi HMI seperti itu, mutlak dilakukan tindakan atau langkah untuk mengubah stigma negatif HMI itu, dengan berbagai cara dan tindakan nyata. Kalau stigma negatif HMI tidak segera dilakukan perubahan, maka reputasi HMI pasti akan lebih merosot
dari kondisi yang ada sekarang, yang ditandai 44 indikator kemunduran HMI. Terutama oleh Pengurus sejak dari PB sampai Komisariat bahkan seluruh anggota HMI, suka tidak suka, mau
tidak mau, harus memiliki kesadaran kolektif, bahwa mengubah stigma negatif HMI harus dilakukan saat ini juga. Di sini tidak ada tawar-menawar lagi. Apabila HMI terlambat melakukan perubahan integral, maka dampaknya akan semakin buruk bagi kelangsungan
hidup HMI untuk masa-masa mendatang.
Dari dua citra yang saling bertolak belakang itu, HMI berada di persimpangan sejarah. Di satu arah dipandang sebagai suatu keberhasilan dan keunggulan HMI yang penuh romantisme sejarah. Di satu arah lain, HMI mengalami kemunduran, sebagai satu kegagalan menjalankan peranannya sebagai organisasi perjuangan. Dari dua kasus ini menunjukkan bahwa perjuangan HMI selama 63 tahun ini tidak semuanya ditandai dengan kesuksesan dan keberhasilan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa terjadi demikian ? Pertanyaan itulah secara
lugas diungkapkan oleh Agussalim Sitompul dalam
“44 Indikator Kemunduran HMI
Secara empiris Agussalim Sitompul membeberkan terdapatnya 44 indikator yang menyebabkan HMI mengalami kemunduran. Semestinya dalam usia HMI 63 tahun, dan telah
memasuki usia 50 tahun kedua ( 50 tahun pertama 1947-1997, dan usia 50 tahun kedua 1998-2048), perjalanan perjuangannya semakin mulus dan menanjak, sudah take off . Akan tetapi
yang terjadi justru sebaliknya – HMI mengalami kemunduran.
Kemunduran itu seperti ditulis oleh Didik J. Rachbini, sudah terjadi sejak tahun 1980 ,berarti sudah 26 tahun. Seperempat abad lebih HMI tidak dapat mengikuti perkembangan realitas sosial budaya yang berkembang sangat pesat. Maka HMI terlambat, sebabnya karena HMI tidak dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian secara struktural. Walaupun HMI ada, tetapi laksana bergerak di tempat dan sangat lamban memberi respon terhadap setiap
perkembangan yang muncul, dengan bermacam-macam perubahan. Berarti antara perkembangan masyarakat dan aktivitas HMI tidak seimbang. Apabila ini terjadi, dan memang sudah terjadi, HMI akan tersingkir dari perubahan yang terus muncul datang silih
berganti. Walaupun HMI ada tetapi berada di pinggir, tidak mampu lagi tampil dalam orbit yang semestinya, malah dengan keberadaan serta akses yang lemah jika dibandingkan terhadap supra sistemnya, yaitu masyarakat yang terus berkembang dan mengalami perubahan. Supra sistemnya yang dimaksud di sini juga adalah gerakan Islam kontemporer yang juga mengalami perubahan. Gerakan Islam kontemporer juga termasuk dalam sistem sosial politik yang ada, karena ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.
Pada saat itu momentum untuk melihat eksistensi HMI di dalam konteks supra sistem yang dimaksud dan sistem sosial politik yang ada. Ketika itu, momentum pembangunan sosial politik maupun ekonomi, tengah berada dalam tingkat intensitas yang tinggi, gerakan Islam kontemporer ikut mengalaminya. Dalam dekade sekarang maupun dekade-dekade mendatang. Pergeseran-pergeseran peran dan kekuatan sosial politik, maupun ekonomi, serta gerakan Islam kontemporer tengah terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi dan besar. Maka bagi organisasi perjuangan seperti HMI, perlu dibina dan dipelihara kesadarannya bahwa segala sesuatu di luar organisasi tengah mengalami perubahan dengan berbagai konsekuensi dan pengaruh yang lebih besar. Hal itu perlu dilakukan untuk tetap memulihkan eksistensi maupun
akses HMI untuk suatu perubahan. Perlu disadari oleh HMI, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, bisa merupakan kekuatan untuk mengembangkan organisasi,
akan tetapi bisa juga menjadi ancaman yang potensial, yang mematikan keberadaan HMI, karena HMI tidak mampu mengimbanginya berupa konsolidasi organisasi sehingga lama
kelamaan kerdil dan akhirnya bisa mati hilang dari peredaran.
Sebuah treatment, dilakukan dalam bentuk suatu kebijaksanaan dan proses rasionalisasi yang seharusnya menjadi konsekuensi dari adanya kesadaran akan urgennya sebuah perubahan internal HMI. Akan tetapi terbukti banyak elemen-elemen organisasi yang tidaksiap, baik sumber daya manusianya.
Berdasarkan sinyalemen itu, HMI sejak tahun 1980-2009, nampaknya banyak melakukan kesalahan di berbagai hal, yang menyebabkan HMI mengalami kemunduran. Koreksi dan kritikan terhadap HMI telah banyak dilakukan baik dari dalam maupun dari luar HMI. Akan tetapi dengan koreksi dan kritikan itu, tidak kunjung terjadi perubahan terhadap perbaikan HMI yang dilakukan PB HMI. Bahkan 2 periode terakhir, HMI semakin terpuruk karena terjadi dualisme kepemimpinan dalam tubuh PB HMI ( Kholis Malik – Muchlis Tapi- Tapi 2001-2003, dan Hasanuddin – Syamud Ngabalin 2003-2006) Kondisi seperti itu terjadi 29 tahun – waktu yang cukup lama. Puncak gelombang koreksi dan kritikan tentang terjadinya
kemunduran di tubuh HMI muncul menjelang Kongres ke-25 HMI di Makassar bulan Februari 2006, yaitu dengan terbitnya karya monumental Agussalim Sitompul
“44 Indikator Kemunduran HMI” . Buku itu telah tersebar luas sejak pra Kongres ke-25 HMI hingga pada Kongres ke-25 HMI di Makassar. Bahkan di beberapa Cabang, seperti HMI Cabang Medan, Padangsidimpuan, Lampung, Cirebon, HMI Komisariat PAI Unissula Semarang buku itu telah dibedah. Sejak itu muncullah kesadaran individual dan kolektif di kalangan HMI bahwa memang HMI benar-benar mengalami kemunduran, dan diikuti pula kesadaran individual dan kolektif bahwa dalam tubuh HMI mutlak dilakukan perubahan agar dapat bangkit kembali. Demikianlah gambaran posisi HMI yaitu di antara keberhasilan – dan kemunduran antara positif – negatif . Akan tetapi apabila dilihat dari waktunya – lebih panjang masa keberhasilannya, selama 33 tahun. Akan tetapi para pengamat lebih terfokus melihat kemunduran HMI saja selama 26 tahun, terlebih-lebih apabila yang melihat itu tidak
mengalami masa keberhasilan HMI pada masa-masa sebelumnya.
Sumber blog : aswinmuhammad
Kondisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Masa Kini
Sitompul, dalam bukunya
44 Indikator Kemunduran HMI, telah mengungkapkan secara
gamblang, kemunduran yang dialami HMI sejak tahun 1980
Ir. H. Akbar Tandjung dalam kata Pengantar dalam buku ini mengatakan bahwa kritik-kritik yang
dikemukakan penulis buku ini memang pahit bagi HMI. Akan tetapi hendaknya itu semua
dipandang sebagai motivasi bagsi setiap pengurus, aktivis, dan kader HMI dimanapun juga,
untuk bangkit dan berkembang kembali sebagai organisasi kemahasiswaan bernapaskan Islam,
yang berwibawa kuat dan berpengaruh
. Ketua Umum PB HMI, Hasanuddin, dalam kata
sambutan PB HMI mengemukakan bahwa apa yang ditulis di buku ini menunjukkan betapa
banyaknya persoalan yang dihadapi HMI termasuk konflik internal
Prof. Dr. H. Nurcholish Madjid, memberikan peringatan keras terhadap HMI ketika
menjelang Kongres ke-23 HMI di Balikpapan tahun 2002. Nurcholish dalam peringatan itu
mengatakan bahwa apabila HMI tidak bisa melakukan perubahan, lebih baik membubarkan diri.
Peringatan itu sebagaishock therapy dengan harapan, HMI dapat dan mampu melakukan perubahan terhadap dirinya yang banyak kalangan dipandang bahwa dalam tubuh
HMI ditemukan berbagai kekurangan yang sifatnya negatif.
Kondisi seperti inilah yang menyebabkan munculnya stigma negatif terhadap HMI
yang meliputi berbagai aspek seperti tentang
keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan,
keorganisasian, keHMIan, kedipsilinan, kurangnya respon terhadap berbagai masalah yang berkembang dalam kehidupan berbangsa bermasyarakat, dan bernegara, HMI tidak diminati lagi oleh mahasiswa, HMI hanya pandai berpendapat, tetapi tidak bisa melakukan perbuatan nyata (action), HMI sangat lemah dalam hal networking (jaringan), HMI sangat lemah dalam bidang informasi, publikasi, dokumentasi, banyak anggota HMI tidak memiliki sifat amanah, pamrih dalam berjuang, kurang dilandasi dengan semangat ikhlas. HMI tidak lulus dalam sejarah, yaitu dengan adanya organisasi yang menamakan dirinya “HMI-MPO”.
Maka dari kondisi HMI seperti itu, mutlak dilakukan tindakan atau langkah untuk mengubah stigma negatif HMI itu, dengan berbagai cara dan tindakan nyata. Kalau stigma negatif HMI tidak segera dilakukan perubahan, maka reputasi HMI pasti akan lebih merosot
dari kondisi yang ada sekarang, yang ditandai 44 indikator kemunduran HMI. Terutama oleh Pengurus sejak dari PB sampai Komisariat bahkan seluruh anggota HMI, suka tidak suka, mau
tidak mau, harus memiliki kesadaran kolektif, bahwa mengubah stigma negatif HMI harus dilakukan saat ini juga. Di sini tidak ada tawar-menawar lagi. Apabila HMI terlambat melakukan perubahan integral, maka dampaknya akan semakin buruk bagi kelangsungan
hidup HMI untuk masa-masa mendatang.
Dari dua citra yang saling bertolak belakang itu, HMI berada di persimpangan sejarah. Di satu arah dipandang sebagai suatu keberhasilan dan keunggulan HMI yang penuh romantisme sejarah. Di satu arah lain, HMI mengalami kemunduran, sebagai satu kegagalan menjalankan peranannya sebagai organisasi perjuangan. Dari dua kasus ini menunjukkan bahwa perjuangan HMI selama 63 tahun ini tidak semuanya ditandai dengan kesuksesan dan keberhasilan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa terjadi demikian ? Pertanyaan itulah secara
lugas diungkapkan oleh Agussalim Sitompul dalam
“44 Indikator Kemunduran HMI
Secara empiris Agussalim Sitompul membeberkan terdapatnya 44 indikator yang menyebabkan HMI mengalami kemunduran. Semestinya dalam usia HMI 63 tahun, dan telah
memasuki usia 50 tahun kedua ( 50 tahun pertama 1947-1997, dan usia 50 tahun kedua 1998-2048), perjalanan perjuangannya semakin mulus dan menanjak, sudah take off . Akan tetapi
yang terjadi justru sebaliknya – HMI mengalami kemunduran.
Kemunduran itu seperti ditulis oleh Didik J. Rachbini, sudah terjadi sejak tahun 1980 ,berarti sudah 26 tahun. Seperempat abad lebih HMI tidak dapat mengikuti perkembangan realitas sosial budaya yang berkembang sangat pesat. Maka HMI terlambat, sebabnya karena HMI tidak dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian secara struktural. Walaupun HMI ada, tetapi laksana bergerak di tempat dan sangat lamban memberi respon terhadap setiap
perkembangan yang muncul, dengan bermacam-macam perubahan. Berarti antara perkembangan masyarakat dan aktivitas HMI tidak seimbang. Apabila ini terjadi, dan memang sudah terjadi, HMI akan tersingkir dari perubahan yang terus muncul datang silih
berganti. Walaupun HMI ada tetapi berada di pinggir, tidak mampu lagi tampil dalam orbit yang semestinya, malah dengan keberadaan serta akses yang lemah jika dibandingkan terhadap supra sistemnya, yaitu masyarakat yang terus berkembang dan mengalami perubahan. Supra sistemnya yang dimaksud di sini juga adalah gerakan Islam kontemporer yang juga mengalami perubahan. Gerakan Islam kontemporer juga termasuk dalam sistem sosial politik yang ada, karena ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.
Pada saat itu momentum untuk melihat eksistensi HMI di dalam konteks supra sistem yang dimaksud dan sistem sosial politik yang ada. Ketika itu, momentum pembangunan sosial politik maupun ekonomi, tengah berada dalam tingkat intensitas yang tinggi, gerakan Islam kontemporer ikut mengalaminya. Dalam dekade sekarang maupun dekade-dekade mendatang. Pergeseran-pergeseran peran dan kekuatan sosial politik, maupun ekonomi, serta gerakan Islam kontemporer tengah terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi dan besar. Maka bagi organisasi perjuangan seperti HMI, perlu dibina dan dipelihara kesadarannya bahwa segala sesuatu di luar organisasi tengah mengalami perubahan dengan berbagai konsekuensi dan pengaruh yang lebih besar. Hal itu perlu dilakukan untuk tetap memulihkan eksistensi maupun
akses HMI untuk suatu perubahan. Perlu disadari oleh HMI, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, bisa merupakan kekuatan untuk mengembangkan organisasi,
akan tetapi bisa juga menjadi ancaman yang potensial, yang mematikan keberadaan HMI, karena HMI tidak mampu mengimbanginya berupa konsolidasi organisasi sehingga lama
kelamaan kerdil dan akhirnya bisa mati hilang dari peredaran.
Sebuah treatment, dilakukan dalam bentuk suatu kebijaksanaan dan proses rasionalisasi yang seharusnya menjadi konsekuensi dari adanya kesadaran akan urgennya sebuah perubahan internal HMI. Akan tetapi terbukti banyak elemen-elemen organisasi yang tidaksiap, baik sumber daya manusianya.
Berdasarkan sinyalemen itu, HMI sejak tahun 1980-2009, nampaknya banyak melakukan kesalahan di berbagai hal, yang menyebabkan HMI mengalami kemunduran. Koreksi dan kritikan terhadap HMI telah banyak dilakukan baik dari dalam maupun dari luar HMI. Akan tetapi dengan koreksi dan kritikan itu, tidak kunjung terjadi perubahan terhadap perbaikan HMI yang dilakukan PB HMI. Bahkan 2 periode terakhir, HMI semakin terpuruk karena terjadi dualisme kepemimpinan dalam tubuh PB HMI ( Kholis Malik – Muchlis Tapi- Tapi 2001-2003, dan Hasanuddin – Syamud Ngabalin 2003-2006) Kondisi seperti itu terjadi 29 tahun – waktu yang cukup lama. Puncak gelombang koreksi dan kritikan tentang terjadinya
kemunduran di tubuh HMI muncul menjelang Kongres ke-25 HMI di Makassar bulan Februari 2006, yaitu dengan terbitnya karya monumental Agussalim Sitompul
“44 Indikator Kemunduran HMI” . Buku itu telah tersebar luas sejak pra Kongres ke-25 HMI hingga pada Kongres ke-25 HMI di Makassar. Bahkan di beberapa Cabang, seperti HMI Cabang Medan, Padangsidimpuan, Lampung, Cirebon, HMI Komisariat PAI Unissula Semarang buku itu telah dibedah. Sejak itu muncullah kesadaran individual dan kolektif di kalangan HMI bahwa memang HMI benar-benar mengalami kemunduran, dan diikuti pula kesadaran individual dan kolektif bahwa dalam tubuh HMI mutlak dilakukan perubahan agar dapat bangkit kembali. Demikianlah gambaran posisi HMI yaitu di antara keberhasilan – dan kemunduran antara positif – negatif . Akan tetapi apabila dilihat dari waktunya – lebih panjang masa keberhasilannya, selama 33 tahun. Akan tetapi para pengamat lebih terfokus melihat kemunduran HMI saja selama 26 tahun, terlebih-lebih apabila yang melihat itu tidak
mengalami masa keberhasilan HMI pada masa-masa sebelumnya.
Sumber blog : aswinmuhammad
Kondisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Masa Kini
Selasa, 09 Mei 2017
Mau tahu pedoman kepengurusan HMI Komisariat ? baca selengkapnya disini
Mau tahu pedoman kepengurusan HMI Komisariat ? baca selengkapnya disini
A. Komposisi Personalia Pengurus Komisariat
1.
Ketua Umum
2.
Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Anggota Dan
Pembinaan Anggota
3.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan Dan
Kepemudaan.
4.
Ketua Bidang Kewirausahaan Dan Pengembangan Profesi
5.
Ketua Bidang Kewanitaan
6.
Sekretaris Umum
7.
Wakil Sekum Bidang PPPA
8.
Wakil Sekum Bidang PTKP
9.
Wakil Sekum Bidang Kewirausahaan Dan Pengembangan
Profesi
10. Wakil Sekum Bidang Kewanitaan
11. Bendahara Umum
12. Wakil Bendahara Umum
13. Departemen Diklat Anggota
14. Departemen Litbang Anggota
15. Departemen Data Anggota
16. Departemen Perguruan Tingggi Dan Kemahasiswaan
17. Departemen Kepemudaan
18. Departemen Kewirausahaan dan
Pengembangan Profesi
19. Departemen Kajian Kewanitaan
20. Departemen Pembangunan Sumber Daya Wanita
21. Departemen Data Dan Pustaka
22. Departemen Penerangan
23. Departemen Ketatausahaan
24. Departemen Logistik
25. Departemen Pengelolaan Sumber Dana
B. Fungsi Personalia Pengurus Komisariat
Masing-masing personalia
Pengurus Komisariat menjalankan fungsinya sebagai berikut:
- Ketua Umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern yang bersifat umum di komisariat
- Ketua bidang Penelitian, pengembangan anggota dan pembinaan anggota adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan penelitian dan pengembangan anggota di tingkat komisariat
- Ketua bidang perguruan tinggi, Kemahasiswaan dan kepemudaan adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan perguruan tinggi, Kemahasiswaan dan kepemudaan di tingkat komisariat
- Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesia adalah penanggungjawab dan koordinator pembentukan fungsionali dan evaluasi dalam bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi di tingkat komisariat serta bertanggungjawab atas koordinasi dengan Lembaga Pengembangan Profesi tingkat Cabang.
- Ketua Bidang kewanitaan adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan bidang kewanitaan tingkat komisariat
- Sekretaris umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang data dan pustaka, ketatausahaan, dan penerangan serta hubungan organisasi dengan pihak mekstern pada tingkat komisariat
- Wakil sekum bidang PPPA bertugas atas nama sekretaris umum untuk kegiatan PPPA membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
- Wakil sekum bidang PTKP bertugas atas nama sekretaris umum untuk kegiatan PTKP membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
- Wakil sekum bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi bertugas atas nama sekretaris umum untuk kegiatan membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
- Wakil sekum bidang kewanitaan bertugas atas nama sekretaris umum untuk kegiatan kewanitaan membantu ketua bidangnya di tingkat komisariat
- Bendahara umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang keuangan dan perlengkapan organisasi pada tingkat komisariat
- Wakil bendahara umum bertugas atas nama bendahara umum dalam pengelolaan administrasi keuangan dan perlengkapan organisasi di tingkat komisariat.
- Departemen tingkat PPPA bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang perkaderan PPPA di tingkat komisariat.
- Departemen litbang anggota bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang litbang di tingkat komisariat.
- Departemen data anggota bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang data anggota di tingkat komisariat.
- Departemen perguruan tingggi dan kemahasiswaan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang PTK di tingkat komisariat.
- Departemen kepemudaan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang pemuda di tingkat komisariat.
- Departemen Kewirausahaan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang Kewirausahaan di tingkat komisariat.
- Departemen kajian kewanitaan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang kewanitaan di tingkat komisariat.
- Departemen pembangunan sumber daya wanita bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang sumber daya wanita di tingkat komisariat.
- Departemen data dan pustaka bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang data dan pustaka di tingkat komisariat.
- Departemen penerangan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang penerangan di tingkat komisariat.
- Departemen ketatausahaan bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang tata usaha di tingkat komisariat.
- Departemen logistik bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang logistik di tingkat komisariat.
- Departemen pengelolaan sumber dana bertugas sebagai koordinator operasional dari kerja dan proyek-proyek di bidang sumber dana di tingkat komisariat.
C. Wewenang Dan Tanggungjawab Bidang Kerja Pengurus Kommisariat
1. Bidang Penelitian, Pengembangan Anggota Dan Pembinaan Anggota
a.
Meyelenggarakan pembinaan anggota komisariat dengan
melakukan pengawasan terhadap training maupun aktivitas yang diselenggarakan
oleh anggota komisariat.
b.
Melakukan penelitian dan penilaian beik dari segi
program maupun edukatif terhadap aktifitas anggota maupun aktifis yang
diselenggarakan oleh komisariat.
c.
Mengusahakan tindak lanjut dari setiap aktivitas
anggota komisariat atas hasil penilaian pelaksana aktivitas seelumnya yang
dilaksanakan anggota maupun komisariat.
d.
Menyelenggarakan proyek-poyek kerja yang memberikan dampak
positif bagi peningkatan kualitas dan kuantitas aktifitas anggota seperti
diskusi pengembangan kelembagaan perkaderan, kurikulum aktifitas dan metode
training dan sebagainya.
e.
Menyelenggarakan kegiatan lain yang dapat menunjang
upaya pembinaan anggota komisariat, training-training latihan-latuhan.
2. Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan Dan Kepemudaan
a.
Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang
partisipasi anggota dan alumni HMI di lingkungan komisariat (fak/PT) aktifitas
diskusi kelompok, grup pelajar tutor tiap disiplin ilmu yang ada di PT.
b.
Melakukan kegiatan yang dapat mendorong anggota dan
alumni komisariat (fak/PT) mengikat kehidupan beragama antara lain:
1.
Memprakarsai kegiatan-kegiatan agama (Islam) di
lingkungan kampus.
2.
Meningkatkan efektivitas kehidupan Masjid kampus
3.
Melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan konsep
Islam tentang berbagai seri kehidupan masyarakat.
c.
Melakukan kegiatan yang menunjang partisipasi anggota
dan alumni komisariat (fak/PT) bersangkutan dalam mewujudkan kehidupan kampus
umumnya di dunia kemahasiswaan di lingkungan komisariat.
d.
Melakukan aksi penelitian dalam lapangan disiplin
ilmu masing-masing dengan melibatkan anggota dan alumni sebagai upaya relasi
tri dharma perguruan tinggi.
3.
Bidang Kewirausahaan Dan Pengembangan Profesi
a.
Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan
profesionalisme anggota tingkat komisariat, serta melakukan pengawasan terhadap
kajian dan program aksi sosial dan aktivitas yang diselenggarakan oleh anggota
komisariat.
b.
Melakukan penilaian dan penelitian baik secara
kualitatif maupun kuantitatif atas program-program aksi sosial atau aktifitas
kekaryaan yang diselenggarakan oleh anggota komisariat.
c.
Mengusahakan tindak lanjut sari setiap aktifitas
anggota komisariat atas hasil penilaian dan penelitian atas pelaksanaan
program/aksi dibidang Kewirausahaan dan pengembangan Profesi yang diselenggarakan
oleh anggota komisariat.
d.
Menyelenggarakan proyek-proyek kerja yang dapat
memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan
aktifitas anggota.
e.
Menyelenggarakan
kegiatan lain yang dapat menunjang upaya pembinaan anggota komisariat di
bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi.
4. BidangKeperempuanan
a.
Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan
kualitas HMI-wati sesuai dengan tingkat perkembangan dunia kewanitaan khususnya
dalam masyarakat umum.
b.
Mengangkat topik-topik keperempuanan di
diskusi-diskusi komisariat.
c.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat
mendorong KOHATI untuk melakukan sosialisasi organisasi dan pembinaan terhadap
personalia KOHATI dalam:
1.
Meningkatkan pengetahuan dan penghayatan anggota
terhadap fungsi dan peranan KOHATI sebagai badan khusus HMI.
2.
Mendorong HMI-wati untuk mengikuti training-training
baik training umum maupun khusus.
3.
Meningkatkan komunikasi antara KOHATI dengan aparat
HMI dan alumni.
5. Bidang administrasi dan kesekretariatan
a.
Melakukan pengaturan tata-cara pengelolaan surat
menyurat yang meliputi:
1.
Penyelenggaraan pemrosesan surat masuk.
2.
Penyelenggaraan pemrosesan surat keluar
3.
Penyelenggaraan pemrosesan konsep surat keluar
4.
Penyelenggaraan pengetikan dan pengadaan surat.
5.
Penyelenggaraan pengaturan administrasi pengarsipan.
6.
Penyelenggarakan pengaturan pengarsipan surat.
b.
Melakukan pengumpulan, pencatatan pengolahan,
penyusunan, dan pemeliharaan dokumentasi organisasi, bahan-bahan yang berkenaan
dengan tat inter dan ekstern organisasi.
c.
Mengatur penyelenggaraan produksi atau reproduksi dari
dokumentasi organisasi yang perlu disampaikan kepada seluruh aparat HMI.
6. Bidang Keuangan Dan Perlengkapan
1.
Menyusun anggaran dan pengeluaran untuk satu periode
dan untuk setiap satu semester.
2.
Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai
dengan ketentuan organisasi yang berlaku.
3.
Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap
penerimaan dan pengeluaran komisariat
berdasarkan pedoman administrasi keuangan yang disusun untuk keperluan
ini.
4.
Melakukan usaha-usaha yang dapat mendorong seluruh
aparat HMI untuk meningkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota.
5.
Mengatur dan mengurus pengamanan, pemeliharaan,
perbaikan dan penambahan oerlengkapan organisasi dengan:
a.
Setiap kali mengadakan kontrol terhadap pemakaian
peralatan organisasi.
b.
Mengusahakan penambahan perlengkapan organisasi
sesuai atau tidak dengan kebutuhan organisasi.
c.
Menyusun daftar inventarisasi organisasi.
d.
Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh
perlengkapan organisasi.
e.
Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan gedung
halaman perkantoran.
INSTANSI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
HMI KOMISARIAT
A. Rapat Anggota Komisariat (RAK)
1) Status
a.
Rapat Anggota Komisariat (RAK) merupakan musyawarah
anggota biasa komisariat
b.
RAK diadakan satu kali dalam satu tahun
2) Kekuasaan/Wewenang
a.
Meminta Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Komisariat
b.
Menetapkan Pedoman Kerja Pengurus Komisariat dan Program
Kerja Komisariat
c.
Memilih Pengurus Komisariat dengan jalan memilih ketua
umum yang merangkap sebagai formateur dan kemudian dua mide formateur.
d.
Menetapkan anggota Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus HMI Komisariat.
3) Tata Tertib Rapat Anggota
Komisariat
a.
Peserta RAK terdiri dari pengurus komisariat, anggota
biasa komisariat, Pengurus KOHATI Komisariat, anggota muda, anggota MPK PK dan
undangan pengurus komisariat.
b.
Pengurus Komisariat adalah penanggungjawab penyelenggara
RAK; anggota biasa adalah utusan; anggota muda, Anggota MPK PK dan undangan
Pengurus Komisariat adalah peserta peninjau.
c.
Peserta utusan mempunyai hak suara dan hak bicara
sedangkan peserta peninjau mempunyai hak bicara.
d.
Pimpinan sidang RAK dipilih dari peserta utusan/peninjau
oleh peserta utusan dan berbentuk presidium.
e.
RAK baru dapat dinyatakan sah apabila dihadiri lebih dari
separuh jumlah anggota biasa
f.
Apabila ayat (e) tidak terpenuhi maka RAK diundur 1 x 24
jam dan setelah itu dinyatakan sah
g.
Setelah LPJ Pengurus Komisariat diterima oleh peserta RAK
maka Pengurus Komisariat dinyatakan demisioner.
B. Rapat-Rapat Pengurus
a.
Rapat Harian Komisariat
1.
Rapat harian dihadiri oleh seluruh fungsionaris
komisariat, ketua KOHATI komisariat.
2.
Rapat harian dilaksanakan setidak-tidaknya
dua kali dalam satu bulan, yakni pada hari jumat dalam minggu pertama, ketiga
setiap bulan.
3.
Fungsi dan wewenang rapat harian:
a.
membahas dan menjabarkan kebijakan yang telah diambil
atau ditetapkan oleh Pengurus Cabangdan sidang pleno yang mensosialisasikan
pada anggota komisariat.
b.
Mengkaji dan mengevaluasi keputusan keputusan
selanjutnya
c.
Mendengarkan laporan kegiatan dari seluruh
fungsionaris komisariat.
b. Rapat Presidium Komisariat
1.
Rapat presidium dihadiri oleh ketua umum, ketua
bidang, sekretaris umum, wakil sekretatis umum, bendahara umum dan wakil
bendahara umum.
2.
Rapat presidium dilaksanakan setidak-tidaknya empat
kali dalam satu bulan yakni, pada hari jum’at dari tiap minggu. Untuk munggu
pertama, kedua dan ketiga diintegrasikan ke dalam rapat harian.
3.
fungsi dan wewenang rapat presidium:
a.
mengambil keputusan tentang pengembangan intern
organisasi sehari-hari khususnya dalam hal perkembangan situasi PT dan
kemahasiswaan dalam upaya pembinaan komisariat.
b.
Mendengar informasi tentang perkembangan intern
organisasi dan dampaknya bagi perkembangan komisariat.
c. Rapat Bidang
1.
Rapat bidang dihadiri oleh aparat bidang yang
bersangkutan.
2.
Rapat bidang diselenggarakan setidak-tidaknya satu
kali dalam satu bulan.
3.
Fungsi dan wewenang rapat bidang:
a.
Mengontrol pelaksanaan proyek/kerja yang dilakukan
oleh setiap bidang.
b.
Membuat penyesuaian terhadap pelaksanaan proyek/kerja
dari setiap bidang yang mengalamio perubahan baik dalam segi teknis maupun segi
waktu.
c.
Menyusun langkah-langkah teknis untuk
menyelenggarakan proyek/kerja berikutnya sesuai dengan kebijakan yang
ditetapkan oleh rapat presidium.
d. Rapat Kerja
1.
Rapat kerja dihadiri oleh semua fungsionaris
komisariat.
2.
Rapat kerja dilakukan sekurang-kurangnya satu kali
dalam satu semester.
3.
Fungsi dan wewenang rapat kerja:
a.
Menyusun jadwal aktivitas/rencana kerja untuk satu
semester.
b.
Menyusun rencana anggaran penerimaan dan pengeluaran
untuk seluruh kegiatan Pengurus Kommisariat selama satu semester. Mau tahu pedoman kepengurusan HMI Komisariat ? baca selengkapnya disini
Langganan:
Postingan (Atom)











